Ya, kegiatan bersih-bersih misalnya di halaman mesjid
atau di lingkungan rumah karena akan ada sebuah momen misalnya Agustusan, merupakan
sebuah tradisi yang telah kualami sejak saya masih kecil. Saya yang terlahir di zaman Soeharto sudah banyak mendengar, melihat
dan terlibat dalam apa yang disebut dengan gotong-royong itu.
Selain gotong royong, ada istilah lain yang serupa dengan gotong royong itu yaitu korve (gak paham bahasa apa dan bagaimana penulisannya). Termasuk juga jika misal pada hari Minggu almarhum Bapakku mengomandoi acara bersih2 & beres2 di rumah ya istilahnya korve itulah.
Selain gotong royong, ada istilah lain yang serupa dengan gotong royong itu yaitu korve (gak paham bahasa apa dan bagaimana penulisannya). Termasuk juga jika misal pada hari Minggu almarhum Bapakku mengomandoi acara bersih2 & beres2 di rumah ya istilahnya korve itulah.
Contoh implementasi dari nilai gotong royong misalnya saat ada seorang tetangga yang akan membangun rumah. Masih sempat saya alami budaya gotong
royong itu terasa kentalnya di masyarakat. Tua muda laki2 maupun perempuan berkumpul bekerja sama mengerjakan hal yang sesuai dengan kemampuannya. Walaupun sudah ada tukangnya yang memang dibayar khusus untuk itu, tetap saja tetangga2 dengan senang hati datang ikut membantu. Malu rasanya jika kita tidak ikut datang walaupun hanya sekedar setor muka doang dan ikut nimbrung minum kopinya saja. Tapi ya itu
tidak masalah karena intinya adalah berkumpul untuk ikut berpartisipasi dalam kegiatan orang lain.
Pernyataan menggelitik
yang saat ini muncul adalah : Masih kuatkan nilai gotong-royong semacam itu di masyarakat
kita dewasa ini ?
Saya yakin hampir semua sependapat dengan opini umum yang ada bahwa memang telah
terjadi pengikisan yang cukup kritis atas nilai budaya gotong royong di negeri
kita ini. Banyak faktor yang membuatnya terkikis sedikit demi sedikit. Saya yakin hampir semua orang memahaminya.
Atas fenomena seperti sekarang ini pulalah yang mungkin melatarbelakangi kenapa Bupati Subang (Eep Hidayat) menjadikan nilai itu sebagai slogan kabupaten. Rakyat Subang Gotong Royong Subang Maju !
Atas fenomena seperti sekarang ini pulalah yang mungkin melatarbelakangi kenapa Bupati Subang (Eep Hidayat) menjadikan nilai itu sebagai slogan kabupaten. Rakyat Subang Gotong Royong Subang Maju !
Ha...ha...ha... Tertawa saya ketika pertama tahu soal slogan
kabupatenku itu. Lucu karena sepertinya koq terlalu simple, terlalu umum,
seperti kurang ng'bombastis, entahlah pokoknya tersenyum sendiri saat
mengingatnya.
Penyebab makin terkikisnya nilai-nilai luhur budaya
gotong-royong itu ya saya yakin banyak sekali aspek yang mempengaruhinya. Semua
bermuara pada satu moment : perubahan zaman. Zaman berubah, aspek-aspek
kehidupan juga berubah. Termasuk nilai-nilai yang dianut dan yang sebelumnya
sudah menjadi sebuah budaya. Salahkah aspek kehidupan - beserta nilai yang
terjadi karenanya - berubah karena adanya perubahan zaman ?
Tak ada mayoritas manapun yang menyalahkannya. Malah akan terasa
aneh jika ada yang tetap berkutat mempertahankannya. Misalnya : Suku Dayak di
Banten yang cenderung tidak terpengaruh dengan adanya perubahan zaman. Seperti
apa mereka tampak di mata opini umum : Unik dan jumlahnya minoritas ! Menjadi
sesuatu yang aneh di mata nilai-nilai anyar sekarang ini sudah seperti
membudaya dan yang maaf saya istilahkan secara kasar : emang gue pikirin,
individualistis alias semau gue, loe loe gw gw, aing kumaha ceuk aing.
Orang Baduy seperti
ikan Arwana di akuarium. Indah dilihat dari luar. Jadi sebuah tontonan yang
menarik. Padahal pendahulu kita semua pernah mengalami tahap seperti itu.
Saat misalnya ayah ibu
kita memperhatikannya, coba tebak, apa yang mereka rasakan? Itu adalah sekitar sesuatu
(bukan ngikut Syahrini ya) yang kalau kita mau jujur, kita sebenarnya
ingin tetap seperti mereka. Karena apa ? Karena budaya gotong royong itu memang
sebuah budaya yang bagus, mulia dan membahagiakan hati.
Cobalah tanya
orang-orang yang hidup di masa saat nilai gotong-royong itu masih terasa
kental. Tanya apa kesan mereka. Saya yakin semua akan menjawab sama bahwa masa
itu masa yang indah dalam hidup bermasyarakat. Seperti misalnya saat ada tetangga yang akan membangun rumah misalnya. Cobalah
tanya apa yang mereka rasakan saat mengalaminya. Pastilah mereka akan
bersemangat menceritakan hal itu. Ibarat sebuah lagu nostalgia, siapa yang tidak bahagia saat kembali mendengarnya ?
Apakah saya menyalahkan perubahan zaman ? Tentu tidak !
Ini hanya sebuah
ulasan tentang sebuah nilai. Nilai yang menarik untuk misalnya dijadikan ajang
diskusi : Gotong Royong.
Mau sekarang masih ada. Masih kental atau sudah jadi encer kayak ice cream yang lupa gak disimpen di kulkas, itu adalah sebuah fenomena dan fakta yang sebenarnya. Waktu berjalan, zaman juga berubah. Yang menentang perubahannya jelas akan terlindas dibuatnya. Apapun
konsekuensinya, perubahan zaman akan terjadi seiring berjalanya waktu. Mau
dibawa kemana kita nanti ? Jalani saja lah apa adanya toh memang hidup akan
terus mendatangi kita day by day...
Lho saya koq nglantur ya ?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar