Jumat, 02 Maret 2012

Gotong Royong. Masihkah Kita Miliki ?

Pagi ini ibuku menelepon menyuruhku untuk memasang umbul-umbul di sekitar pelataran mesjid sebelah rumahku, karena nanti siang katanya akan ada kunjungan dari Ketua BKMM Kabupaten Subang yang notabene istrinya bupati : Ibu Nina Eep Hidayat. Karena Ibuku adalah salah satu ketua BKMM ranting kecamatan, gak enak rasanya jika perintah itu tak sigap kulaksanakan. Sepulang nganterin anak ke sekolah, tak hanya umbul-umbul itu yang kusiapkan tapi juga peralatan perang lain dalam rangka bersih-bersih mau ada kunjungan pejabat ini. Sapu, singkup, cangkul, termasuk sarung tangan dan tak ketinggalan pula sepatu boat !
Ya, kegiatan bersih-bersih misalnya di halaman mesjid atau di lingkungan rumah karena akan ada sebuah momen misalnya Agustusan, merupakan sebuah tradisi yang telah kualami sejak saya masih kecil. Saya yang terlahir di zaman Soeharto sudah banyak mendengar, melihat dan terlibat dalam apa yang disebut dengan gotong-royong itu. 
Selain gotong royong, ada istilah lain yang serupa dengan gotong royong itu yaitu korve (gak paham bahasa apa dan bagaimana penulisannya). Termasuk juga jika misal pada hari Minggu almarhum Bapakku mengomandoi acara bersih2 & beres2 di rumah ya istilahnya korve itulah.
Contoh implementasi dari nilai gotong royong misalnya saat ada seorang  tetangga yang akan membangun rumah. Masih sempat saya alami budaya gotong royong itu terasa kentalnya di masyarakat. Tua muda laki2 maupun perempuan berkumpul bekerja sama mengerjakan hal yang sesuai dengan kemampuannya. Walaupun sudah ada tukangnya yang memang dibayar khusus untuk itu, tetap saja tetangga2 dengan senang hati datang ikut membantu. Malu rasanya jika kita tidak ikut datang walaupun hanya sekedar setor muka doang dan ikut nimbrung minum kopinya saja. Tapi ya itu tidak masalah karena intinya adalah berkumpul untuk ikut berpartisipasi dalam kegiatan orang lain.
Pernyataan menggelitik yang saat ini muncul adalah : Masih kuatkan nilai gotong-royong semacam itu di masyarakat kita dewasa ini ?
Saya yakin hampir semua sependapat dengan opini umum yang ada bahwa memang telah terjadi pengikisan yang cukup kritis atas nilai budaya gotong royong di negeri kita ini. Banyak faktor yang membuatnya terkikis sedikit demi sedikit. Saya yakin hampir semua orang memahaminya.

Atas fenomena seperti sekarang ini pulalah yang mungkin melatarbelakangi kenapa Bupati Subang (Eep Hidayat) menjadikan nilai itu sebagai slogan kabupaten. Rakyat Subang Gotong Royong Subang Maju !
Ha...ha...ha... Tertawa saya ketika pertama tahu soal slogan kabupatenku itu. Lucu karena sepertinya koq terlalu simple, terlalu umum, seperti kurang ng'bombastis, entahlah pokoknya tersenyum sendiri saat mengingatnya.
Penyebab makin terkikisnya nilai-nilai luhur budaya gotong-royong itu ya saya yakin banyak sekali aspek yang mempengaruhinya. Semua bermuara pada satu moment : perubahan zaman. Zaman berubah, aspek-aspek kehidupan juga berubah. Termasuk nilai-nilai yang dianut dan yang sebelumnya sudah menjadi sebuah budaya. Salahkah aspek kehidupan - beserta nilai yang terjadi karenanya - berubah karena adanya perubahan zaman ?
Tak ada mayoritas manapun yang menyalahkannya. Malah akan terasa aneh jika ada yang tetap berkutat mempertahankannya. Misalnya : Suku Dayak di Banten yang cenderung tidak terpengaruh dengan adanya perubahan zaman. Seperti apa mereka tampak di mata opini umum : Unik dan jumlahnya minoritas ! Menjadi sesuatu yang aneh di mata nilai-nilai anyar sekarang ini sudah seperti membudaya dan yang maaf saya istilahkan secara kasar : emang gue pikirin, individualistis alias semau gue, loe loe gw gw, aing kumaha ceuk aing. 
Orang Baduy seperti ikan Arwana di akuarium. Indah dilihat dari luar. Jadi sebuah tontonan yang menarik. Padahal pendahulu kita semua pernah mengalami tahap seperti itu.
Saat misalnya ayah ibu kita memperhatikannya, coba tebak, apa yang mereka rasakan? Itu adalah sekitar sesuatu (bukan ngikut Syahrini ya) yang kalau kita mau jujur, kita sebenarnya ingin tetap seperti mereka. Karena apa ? Karena budaya gotong royong itu memang sebuah budaya yang bagus, mulia dan membahagiakan hati.
Cobalah tanya orang-orang yang hidup di masa saat nilai gotong-royong itu masih terasa kental. Tanya apa kesan mereka. Saya yakin semua akan menjawab sama bahwa masa itu masa yang indah dalam hidup bermasyarakat. Seperti misalnya saat ada tetangga yang akan membangun rumah misalnya. Cobalah tanya apa yang mereka rasakan saat mengalaminya. Pastilah mereka akan bersemangat menceritakan hal itu. Ibarat sebuah lagu nostalgia, siapa yang tidak bahagia saat kembali mendengarnya ?  
Apakah saya menyalahkan perubahan zaman ? Tentu tidak !
Ini hanya sebuah ulasan tentang sebuah nilai. Nilai yang menarik untuk misalnya dijadikan ajang diskusi : Gotong Royong.
Mau sekarang masih ada. Masih kental atau sudah jadi encer kayak ice cream yang lupa gak disimpen di kulkas, itu adalah sebuah fenomena dan fakta yang sebenarnya. Waktu berjalan, zaman juga berubah. Yang menentang perubahannya jelas akan terlindas dibuatnya. Apapun konsekuensinya, perubahan zaman akan terjadi seiring berjalanya waktu. Mau dibawa kemana kita nanti ? Jalani saja lah apa adanya toh memang hidup akan terus mendatangi kita day by day...
Lho saya koq nglantur ya ?


Tidak ada komentar:

Posting Komentar