Senin, 05 Maret 2012

OLPC = One Laptop Per Child

Beberapa bulan yang lalu Yahoo! dalam program : Yahoo! Buka Dunia,  mengajak para pelajar untuk lebih melek internet. Seperti seruan inilah pula yang menjadi salah satu misi saya membuat blog ini. Agar saudara-saudara kita, tetangga-tetangga kita, anak-anak khususnya dan masyarakat Indonesia terutama generasi muda pada umumnya, jadi semakin banyak tahu dan semakin pintar sehingga tidak tertinggal dengan negara-negara lain di bumi ini terutama negara-negara yang sudah lebih dahulu melek soal teknologi komunikasi khususnya Internet. Tak jadi soal lah walau mesti jadi user dulu, tapi user yang benar-benar intens dan punya kemauan untuk mengeksplornya lebih dalam lagi. 
Terkadang hasil analisa suatu study membuat saya sendiri bingung. Di satu waktu saya baca artikel bahwa Indonesia adalah pengguna Internet terbesar se-Asia Tenggara (ke-2 atau ke-3 saya gak peduli lah yang penting 5 besar !. Tapi hasil riset lain menyebutkan masyarakat yang melek internet cuma 10%-nya dari seluruh pengakses internet. Korelasinya bagaimana itu ya ? He...he...
Tapi ya, gak perlu lah hal semacam itu kita pusingkan. Bisa-bisa malah jadi polemik tanpa makna nantinya. Kayak peribahasa : ngrebutin pepesan kosong ! Yang penting adalah bagaimana kita bisa terus mau memacu diri menimba ilmu. Belajar dan belajar. Melihat, menyimak, menelaah dan kemudian saling berbagi agar pengetahuan tersebut bisa juga berarti untuk orang lain. 

Iri rasanya hati ini saat sempat melihat website semisal one.latpop.org yang menggambarkan tentang anak-anak kecil yang sudah begitu familier dengan yang namanya mini laptop. Misi OLPC adalah : To empower the world's poorest children through education ( memberdayakan anak-anak paling miskin di dunia melalui pendidikan)
Walaupun anak-anak tersebut mendapatkanya karena ada hibah dari lembaga nirlaba yang sekaligus pemilik website tersebut, tapi bukan itu inti yang menjadi fokus perhatian saya. Pertanyaan yang spontan menggangpu pikiran saya adalah : Kapan ya di Indonesia pemandangan seperti itu bisa menjadi sebuah pemandangan yang biasa ?  Ini adalah beberapa foto mereka yang saya copy dari website one.laptop.org :





































Mereka yang mungkin setingkat SMP, sekolah dasar. bahkan level pra sekolah alias taman kanak-kanak pada ngantongin dan nenteng mini laptop-nya masing-masing. Terlihat sekali dengan jelas tak ada ekspresi untuk gaya-gayaan atau ajang pamer ke temen-temennya, tapi benar-benar mereka menjadikan mini laptop itu sebagai sebuah sarana untuk belajar ! Menulis & membaca, semuanya dilakukan dengan mini laptop itu. 
Sekarang di kita yang ada boro-boro nenteng atau ngantongin mini laptop ya ? Anak-anak cowok setingkat SMP apalagi SMU, malah gak sedikit yang ke sekolahnya cuma bawa buku tulis 1 buah dan itupun dilipet trus diselipin di kantong celana belakang macem dompet saja. Masuk ke sekolah jam 8 pulangnya jam 10 ! 
Ha...ha...ha... yang ngerasa pasti langsung ngeclose tulisan saya ini.
Kalaupun ada komunitas pelajar yang mewajibkan anggota komunitasnya memiliki laptop sebagai sarana belajar, itu paling hanya ada di SMU2 swasta atau perguruan2 tinggi swasta dan itupun paling juga hanya ada di kota-kota besar seperti Jakarta. Ya, mungkin kondisi ekonomi kita belum memungkinkan ke arah mobilisasi mini laptop itu tapi bukan itu juga yang jadi sorotan keprihatinan saya. Masalah kemauan dari diri sendiri-lah yang saya beri tekanan. Sepertinya hal itu rendah sekali tingkatannya terutama di kalangan generasi muda. Coba saja tengok di warnet-warnet. Peminat warnet umumnya hanya menggunakan warnet sebagai tempat maen game online atau update status facebook-an dan chatting.
Kemauan untuk ngobrak-ngabrik misalnya Modzila Firefox, Yahoo! apalagi program-program office semacam Microsoft Winword, itu jelas sekali tidak ada. Setelah habis duit di kantong untuk bayar sewa ng'net ya mereka trus pulang dengan tidak membawa hasil apapun dalam penambahan wawasan pengetahuan dan keilmuannya. Hanya kepuasan telah bisa naek level di game online, atau puas karena punya temen baru setelah fb-an.  
Sekarang kembali lagi ke masalah foto-foto di atas. Coba tanya dalam hati kita masing-masing, kesan apa yang muncul setelah memperhatikan foto-foto tersebut ?
Kalo tidak ngiri berarti hati kita mesti dibawa ke laundry buat dicuci tuh sampai benar-benar bersih !
Semoga sharing saya ini bermanfaat ya. Untuk lebih mengetahui lebih jauh tentang eksistensi lembaga nirlaba OLPC tersebut silahkan browsing sendiri langsung link ini : one.laptop.org
 
  

Minggu, 04 Maret 2012

Foto Anak & Keponakan Tersayang

Numpang pamerin anak ya.

Soalnya cuma punya satu-satunya !







Wajah yang cukup imut kayaknya ya ? 
Kata Bapaknya sih. Gak tau kata orang lain mah... 




Nah ini pose anggun. 

Nggak tahu kayak siapa. Kayaknya gak mirip gaya ibunya he...he...























Nah pose begini kelihatan sedikit gaya tomboynya. 

Apa gara-gara waktu ibunya hamil aku ngarep anak cowok ya?



























Nah kalau ini ponakan gantengku. Panggilannya : Owaf Surgowaf
Anak adikku yang paling bungsu. Lia Noorhanasah.
Poto ini diambil di ruang rawat inap RS Khusus Mata Cicendo - Bandung
Saat saya harus dirawat karena habis menjalani operasi katarak.

Makasih atas tengokannya ya.
Habisnya bingung mau posting apa. 
Draft sih sudah ada tapi masih belum sempurna buat published.

Jumat, 02 Maret 2012

Gotong Royong. Masihkah Kita Miliki ?

Pagi ini ibuku menelepon menyuruhku untuk memasang umbul-umbul di sekitar pelataran mesjid sebelah rumahku, karena nanti siang katanya akan ada kunjungan dari Ketua BKMM Kabupaten Subang yang notabene istrinya bupati : Ibu Nina Eep Hidayat. Karena Ibuku adalah salah satu ketua BKMM ranting kecamatan, gak enak rasanya jika perintah itu tak sigap kulaksanakan. Sepulang nganterin anak ke sekolah, tak hanya umbul-umbul itu yang kusiapkan tapi juga peralatan perang lain dalam rangka bersih-bersih mau ada kunjungan pejabat ini. Sapu, singkup, cangkul, termasuk sarung tangan dan tak ketinggalan pula sepatu boat !
Ya, kegiatan bersih-bersih misalnya di halaman mesjid atau di lingkungan rumah karena akan ada sebuah momen misalnya Agustusan, merupakan sebuah tradisi yang telah kualami sejak saya masih kecil. Saya yang terlahir di zaman Soeharto sudah banyak mendengar, melihat dan terlibat dalam apa yang disebut dengan gotong-royong itu. 
Selain gotong royong, ada istilah lain yang serupa dengan gotong royong itu yaitu korve (gak paham bahasa apa dan bagaimana penulisannya). Termasuk juga jika misal pada hari Minggu almarhum Bapakku mengomandoi acara bersih2 & beres2 di rumah ya istilahnya korve itulah.
Contoh implementasi dari nilai gotong royong misalnya saat ada seorang  tetangga yang akan membangun rumah. Masih sempat saya alami budaya gotong royong itu terasa kentalnya di masyarakat. Tua muda laki2 maupun perempuan berkumpul bekerja sama mengerjakan hal yang sesuai dengan kemampuannya. Walaupun sudah ada tukangnya yang memang dibayar khusus untuk itu, tetap saja tetangga2 dengan senang hati datang ikut membantu. Malu rasanya jika kita tidak ikut datang walaupun hanya sekedar setor muka doang dan ikut nimbrung minum kopinya saja. Tapi ya itu tidak masalah karena intinya adalah berkumpul untuk ikut berpartisipasi dalam kegiatan orang lain.
Pernyataan menggelitik yang saat ini muncul adalah : Masih kuatkan nilai gotong-royong semacam itu di masyarakat kita dewasa ini ?
Saya yakin hampir semua sependapat dengan opini umum yang ada bahwa memang telah terjadi pengikisan yang cukup kritis atas nilai budaya gotong royong di negeri kita ini. Banyak faktor yang membuatnya terkikis sedikit demi sedikit. Saya yakin hampir semua orang memahaminya.

Atas fenomena seperti sekarang ini pulalah yang mungkin melatarbelakangi kenapa Bupati Subang (Eep Hidayat) menjadikan nilai itu sebagai slogan kabupaten. Rakyat Subang Gotong Royong Subang Maju !
Ha...ha...ha... Tertawa saya ketika pertama tahu soal slogan kabupatenku itu. Lucu karena sepertinya koq terlalu simple, terlalu umum, seperti kurang ng'bombastis, entahlah pokoknya tersenyum sendiri saat mengingatnya.
Penyebab makin terkikisnya nilai-nilai luhur budaya gotong-royong itu ya saya yakin banyak sekali aspek yang mempengaruhinya. Semua bermuara pada satu moment : perubahan zaman. Zaman berubah, aspek-aspek kehidupan juga berubah. Termasuk nilai-nilai yang dianut dan yang sebelumnya sudah menjadi sebuah budaya. Salahkah aspek kehidupan - beserta nilai yang terjadi karenanya - berubah karena adanya perubahan zaman ?
Tak ada mayoritas manapun yang menyalahkannya. Malah akan terasa aneh jika ada yang tetap berkutat mempertahankannya. Misalnya : Suku Dayak di Banten yang cenderung tidak terpengaruh dengan adanya perubahan zaman. Seperti apa mereka tampak di mata opini umum : Unik dan jumlahnya minoritas ! Menjadi sesuatu yang aneh di mata nilai-nilai anyar sekarang ini sudah seperti membudaya dan yang maaf saya istilahkan secara kasar : emang gue pikirin, individualistis alias semau gue, loe loe gw gw, aing kumaha ceuk aing. 
Orang Baduy seperti ikan Arwana di akuarium. Indah dilihat dari luar. Jadi sebuah tontonan yang menarik. Padahal pendahulu kita semua pernah mengalami tahap seperti itu.
Saat misalnya ayah ibu kita memperhatikannya, coba tebak, apa yang mereka rasakan? Itu adalah sekitar sesuatu (bukan ngikut Syahrini ya) yang kalau kita mau jujur, kita sebenarnya ingin tetap seperti mereka. Karena apa ? Karena budaya gotong royong itu memang sebuah budaya yang bagus, mulia dan membahagiakan hati.
Cobalah tanya orang-orang yang hidup di masa saat nilai gotong-royong itu masih terasa kental. Tanya apa kesan mereka. Saya yakin semua akan menjawab sama bahwa masa itu masa yang indah dalam hidup bermasyarakat. Seperti misalnya saat ada tetangga yang akan membangun rumah misalnya. Cobalah tanya apa yang mereka rasakan saat mengalaminya. Pastilah mereka akan bersemangat menceritakan hal itu. Ibarat sebuah lagu nostalgia, siapa yang tidak bahagia saat kembali mendengarnya ?  
Apakah saya menyalahkan perubahan zaman ? Tentu tidak !
Ini hanya sebuah ulasan tentang sebuah nilai. Nilai yang menarik untuk misalnya dijadikan ajang diskusi : Gotong Royong.
Mau sekarang masih ada. Masih kental atau sudah jadi encer kayak ice cream yang lupa gak disimpen di kulkas, itu adalah sebuah fenomena dan fakta yang sebenarnya. Waktu berjalan, zaman juga berubah. Yang menentang perubahannya jelas akan terlindas dibuatnya. Apapun konsekuensinya, perubahan zaman akan terjadi seiring berjalanya waktu. Mau dibawa kemana kita nanti ? Jalani saja lah apa adanya toh memang hidup akan terus mendatangi kita day by day...
Lho saya koq nglantur ya ?


Kamis, 01 Maret 2012

Mau Dibawa Kemana...


Itu bukan penggalan lagu Marcell lho. Itu sebuah judul postinganku kali ini.
Maksudnya mau dibawa kemana ini ya awak (tubuhku ini). Tiap hari - sejak rada gila 'ngblog - menghabiskan waktu dengan saykojian melulu (maksudnya lagu "online-online" itu yang kebetulan juga dah dua tahunan jadi RBT-ku).
Terlalu banyak keinginan di kepala ini malah mampet bingung gimana nyalurinnya sesuai dengan misi saya ikut-ikutan ngblog ini. Sharing, berbagi, untuk menjadi lebih pintar !
Umur memang dah tua, tapi semangat untuk belajar, membaca, mengetahui, menyimak, memahami dan mengeksplornya lebih dalam dan jauh lagi, itu masih punya dan masih menyala.
Seperti juga kerjaan seharian ini. Nyoba-nyoba ngbrowsing postingan Dendi Darin di darinholic.com terutama dengan keyword : blog, result-nya banyak banget ! Dibaca on screen persatu postingan kan kayaknya lama jadi saya coba saja edit biasa pake jurus tunggal nan sakti copy-paste itu. Gak kerasa saat dilihat file doc-nya, jumlahnya sudah lebih dari 200 halaman ukuran legal. Tapi ya trik saya begitu itu. Kalau hasil curian pake copy paste itu sudah jadi file doc, mau diapain juga gampang nantinya. Mau dibaca on screen enak - karena sudah diedit sebagus mungkin sesuai dengan selera saya - mau versi printed-nya juga saya yakin akan banyak yang suka dengan tampilannya. Soal urusan rapih dan menarik untuk dibaca sih emang bawaan badan jadi ya...PD sajalah. Soal susunan kata, termasuk ejaannya juga saya selalu teliti supaya enak dibaca dan gampang dimengerti orang lain. Kalo susunan kata dan kalimatnya awut-awutan kan boro-boro orang mau baca lebih jauh. Habis baca satu paragraf saja langsung berhenti membacanya.

Faktanya memang tak sedikit sih blog-blog yang susunan kata dan kalimat-kalimat di postingannya kurang tersusun rapih padahal postingannya banyak dan juga isinya bermanfaat. Kalo saja isinya lebih rapih dan enak dibaca, saya yakin blog-blog tersebut bisa lebih populer lagi di mata netter yang ngbukanya. Blog Dendi Darin sendiri sih jelas termasuk salah satu blog yang bagus baik tampilan maupun isinya termasuk susunan kalimat-kalimatnya yang simple, komunikatif cenderung interaktif, dan mudah dipahami. Makanya saya langsung tertarik untuk mengeksplornya. Tepatnya sih ya mencuri isinya ! He...he... Maaf ya Mas Darin... Saya koleksi postingan yang penting-pentingnya karena buat saya itu sangat berharga. Saya satukan dalam sebuah file doc di folder khusus untuk salah satu referensi utama saya dalam ngblog ria ini.

Walaupun tak seluruhnya saya baca secara on screen apalagi menyimaknya dengan penuh perasaan - kalo boleh saya simpulkan - ternyata memang butuh waktu ya untuk bisa jadi blogger yang handal itu. Tapi ya justru di situlah tantangannya. Semangat untuk maju, ingin tahu, ingin bisa, ingin menjadi lebih pintar, lebih baik dan lebih baik, adalah bahan bakar utama untuk menjadikan ng'blog sebagai salah satu wahana untuk menyalurkan keinginan. Yang pasti buat saya, wahana yang satu ini ternyata efektif untuk melenyapkan pikiran2 buruk dan negatif ! Pikiran makin fokus dan nyaris selalu terkonsentrasi pada wahana ini. Seperti salah satu judul Mas Darin : Lapar Bila Tak Membaca, Haus Bila Tak Menulis. Saya mulai memiliki itu. Dan itu membuat saya bahagia !
Semoga saja netter2 pemula semacam saya ini bisa merasakan hal positif semacam itu. Jangan sampai - juga seperti judul salah satu postingan Mas Darin - Nggak Ikutan Ngeblog ? Bersiaplah Untuk Menjadi Kaum Minoritas !
Nah lho...