Tapi ya, gak perlu lah hal semacam itu kita pusingkan. Bisa-bisa
malah jadi polemik tanpa makna nantinya. Kayak peribahasa : ngrebutin pepesan
kosong ! Yang penting adalah bagaimana kita bisa terus mau memacu diri menimba ilmu. Belajar dan belajar. Melihat, menyimak, menelaah dan kemudian saling berbagi agar pengetahuan tersebut bisa juga berarti untuk orang lain.
Walaupun anak-anak tersebut mendapatkanya karena ada hibah dari lembaga nirlaba yang sekaligus pemilik website tersebut, tapi bukan itu inti yang menjadi fokus perhatian saya. Pertanyaan yang spontan menggangpu pikiran saya adalah : Kapan ya di Indonesia pemandangan seperti itu bisa menjadi sebuah pemandangan yang biasa ? Ini adalah beberapa foto mereka yang saya copy dari website one.laptop.org :
Mereka
yang mungkin setingkat SMP, sekolah dasar. bahkan level pra sekolah alias
taman kanak-kanak pada ngantongin dan nenteng mini laptop-nya
masing-masing. Terlihat sekali dengan jelas tak ada ekspresi untuk gaya-gayaan
atau ajang pamer ke temen-temennya, tapi benar-benar mereka menjadikan mini
laptop itu sebagai sebuah sarana untuk belajar ! Menulis &
membaca, semuanya dilakukan dengan mini laptop itu.
Sekarang di
kita yang ada boro-boro nenteng atau ngantongin mini laptop ya ?
Anak-anak cowok setingkat SMP apalagi SMU, malah gak sedikit yang ke sekolahnya
cuma bawa buku tulis 1 buah dan itupun dilipet trus diselipin di kantong
celana belakang macem dompet saja. Masuk ke sekolah jam 8 pulangnya jam 10 !
Ha...ha...ha... yang ngerasa pasti langsung ngeclose tulisan saya ini.
Kalaupun
ada komunitas pelajar yang mewajibkan anggota komunitasnya memiliki
laptop sebagai sarana belajar, itu paling hanya ada di SMU2 swasta atau
perguruan2 tinggi swasta dan itupun paling juga hanya ada di kota-kota besar seperti Jakarta. Ya, mungkin kondisi ekonomi kita belum memungkinkan ke arah mobilisasi mini laptop itu tapi bukan itu juga yang jadi sorotan keprihatinan saya. Masalah kemauan dari diri sendiri-lah yang saya beri tekanan. Sepertinya hal itu rendah sekali tingkatannya terutama di kalangan generasi muda. Coba saja tengok di warnet-warnet. Peminat warnet umumnya hanya menggunakan warnet sebagai tempat maen game online atau update status facebook-an dan chatting.
Kemauan untuk ngobrak-ngabrik misalnya Modzila Firefox, Yahoo! apalagi program-program office semacam Microsoft Winword, itu jelas sekali tidak ada. Setelah habis duit di kantong untuk bayar sewa ng'net ya mereka trus pulang dengan tidak membawa hasil apapun dalam penambahan wawasan pengetahuan dan keilmuannya. Hanya kepuasan telah bisa naek level di game online, atau puas karena punya temen baru setelah fb-an.
Sekarang kembali lagi ke masalah foto-foto di atas. Coba tanya dalam hati kita
masing-masing, kesan apa yang muncul setelah memperhatikan foto-foto tersebut ?
Kalo
tidak ngiri berarti hati kita mesti dibawa ke laundry buat
dicuci tuh sampai benar-benar bersih !
Semoga
sharing saya ini bermanfaat ya. Untuk lebih mengetahui lebih jauh tentang eksistensi lembaga nirlaba OLPC tersebut silahkan browsing sendiri langsung link ini : one.laptop.org
.








